Awal yang telihat biasa kini jadi luar biasa di mata ku. Sesuatu yang indah benar – benar telah bersemi dihati. entah mengapa dan entah bagaimana pelan – pelan menyusup begitu nyata di hati. Sebuah kisah telah di mulai….
Kisah ku dengan seorang manusia bernama Alan
Alan… Alan… dan Alan…
Nama itu semakin hari semakin menari – nari di pikiran ku. Aku selalu menikmati setiap tariannya seperti menikmati tetesan hujan di antara bukit nan menghijau. Entah dia mengetahuinya atau tidak, entah dia sadar atau tidak ada sepasang mata yang dari jauh selalu memandangnya. Sepasang mata yang masih ragu untuk menggapai nya. Sepasang mata yang seperti menemukan surga di balik matanya. Sepasang mata milik ku. Joesyva
“ Joeeeeeee” teriak eliz dari belakang mengagetkan ku
“ yaa…yaa” kata ku gelagapan dan memalingkan wajah ku seketika dari alan yang berdiri tak jauh dari ku. Memandangnya sehabis kuliah adalah rutinitas ku sudah sebulan ini. Melihat canda dan tawanya begitu menentramkan jiwa, walau iya tak menyadarinya ada aku disini berdiri memandangnya. Tak masalah walau cuma bisa memandangnya dari jauh karena hal itu sudah cukup bagiku dan membuat hati bahagia.
‘ hmmmm liatin alan lagi ne yeee” kata chika menimpali
“hehehehe” balas ku tertawa garing
“chik bantuin gue lagi” kata ku singkat penuh nada permohonan terdalam
Chika adalah orang yang bisa membantu ku untuk dekat dengan alan, karena hanya dia yang telah di kenal alan, sejak ku paksa ia menyapa alan beberapa hari yang lalu. Dari chikalah aku mengetahui namanya, jurusannya bahkan nama facebooknya, namun yang bikin sedikit kecewa chika lupa meminta nomor handphone nya. Aku yakin sebenarnya dia ngak benar – benar lupa. Hmmmm dia hanya sedikit gengsi. Terlepas dari itu semua terimaksih teramat banyak ku ucapkan buat chika. Dia yang membuat aku maju walau cuma baru selangkah Beruntung aku punya sahabat seperti chika.
“ Bantuin apa lagi?” Jawab chika curiga
“ Gue mau loe ngomong lagi sama alan, bilang gue mau kenalan sama dia. Chika please gue serius” kata ku dengan harap
Lama chika terdiam dan ngak merespon apa – apa
“Chik loe denger gue ngak sich” kata ku agak memaksa
“ Bukan gue ngak mau bantuin loe joe, gue udah janji sama Andra untuk ngak ngomong lagi sama alan, please loe ngertiin gue juga ya?” katanya sambil memegang pundak ku halus, mecoba menyakinkan ku atas alasan yang ia kemukakan.
Aku sadar aku sudah terlalu jauh meminta pada chika, pernah Andra menegur ku karena itu. aku mengerti Andra tak ingin kehilangan chika wajar ku kira. Aku paham atas alasan itu. Aku tak ingin jadi sahabat yang egois buat chika karena aku juga ingin chika bahagia
“ Gue mengerti posisi loe chik, maaf gue terlalu banyak merepotkan loe”
“ Loe ngak pernah bikin gue repot Joe, gue seneng banget liat loe seneng” kata chika sungguh – sungguh
Aku benar – benar terharu, terlalu dalam rasa ku pada alan hanya sahabat yang mampu membantu dan selalu ada disampingku. Mereka orang – orang terbaik yang pernah ku kenal. Mereka tak pernah bosan mendengar celoteh ku tentang alan bahkan cerita yang sudah ku ulang barangkali 5 kali…Satu hal yang aku tau pasti mereka selalu mendukungku asal membuat hati bahagia.
Kembali memandang alan dan tak ku duga dia balas memandang ku.
Oh Tuhan…
Jantung ku berdetak sepesekian detik, tak bisa bernafas butuh udara, otak ku membeku aku begitu terpana, seketika hujan bungan seolah – olah turun hanya di sekitar ku, indah sekaliiiii
Tatapan matanya tajam namun tetap terasa teduh seperti belati menghunus tepat di jantung hati. aku lemah…aku benar – benar telah jatuh… jatuh di hatinya. Ini rasa terindah yang pernah ku miliki, rasa cinta untuk alan. Cepat – cepat ku palingkan wajah darinya, aku bisa mati berdiri jika lama – lama beradu pandang dengan nya. Ketika ku lirik dia lagi dia sudah tidak ada. Huufff ku kantakan dalam hati “masih ada hari esok joesy”. Hari esok dan esok yang selalu ku nanti – nanti
###
… continue reading this entry.